Oleh : Tatang Hidayat *)
Nabi Muhammad SAW
merupakan makhluk yang agung. Beliau SAW adalah pembawa risalah
sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Peringatan Maulid Nabi Saw
sendiri tidak lain merupakan sikap pengagungan dan penghormatan kepada
beliau yang kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasul. Keistimewaan Beliau
tidak lain karena Beliau diberi wahyu oleh Allah SWT. Yang dengan wahyu
tersebut, beliau membawa misi untuk menyampaikan risalah yang beliau
terima kepada seluruh umat manusia.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW
tidak akan bermakna apa-apa, seandainya Beliau tidak di angkat jadi Nabi
dan Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar
mereka mau diatur dengan aturan Allah SWT. Karena itu, peringatan
Maulid Nabi SAW yang dilaksanankan setiap tahunnya pun tidak akan
bermakna apa-apa–selain sebagai aktivitas rutinitas dan ritual
belaka-jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah SWT, yang
telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke tengah-tengah mereka.
Kecintaan
kepada Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan kecintaan kepada Allah
SWT. Karena, Nabi Saw adalah kekasih-Nya. Jika demikian adanya, maka
disamping kita cinta kepada Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada Allah
SWT. Dengan demikian, jika kita memang mencintai Nabi SAW, maka kita
harus meneladani beliau SAW dalam segala aktivitas kehidupan, bukan
hanya dari ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam segala aspek
kehidupan. Karena Allah Swt berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik." (QS al-Ahzab [33]: 21).
Jika
demikian, maka sudah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah
SAW, maka tidak ada alasan lagi bagi kita selaku umatnya untuk tidak
meneladani Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan. Karena,
Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan ibadah ritual dan akhlak saja.
Tetapi Beliau juga mengajarkan kepada umatnya dalam bermua’amalah, baik
itu dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum dan
yang lainnya.
Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar
mencintai Nabi Muhammad SAW dengan sebenar-benarnya cinta? Yakni dengan
meyakini dan mengamalkan risalah apa yang Nabi sAW sampaikan. Nyatanya,
kita masih jauh dalam meneladani Nabi SAW. Begitu berat hati ini untuk
meyakini dan mengamalkan risalah yang beliau sampaikan, kita masih
memilah-milih ayat mana yang sesuai dengan hawa nafsu kita baru
diamalkan, dan mana yang tidak sesuai dengan kita, begitu berat untuk di
amalkan.
Berat rasanya hari ini bagi kita untuk meninggalkan
riba. Begitu berat hari ini bagi kita untuk mengatur urusan sosial
dengan aturan Islam, berat bagi kita untuk mengatur pendidikan dengan
aturan Islam, begitupun dengan kehidupan lainnya, begitu berat hati ini
untuk menerima aturan Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Apalagi, begitu beratnya hati ini untuk menerima sanksi-sanksi hukum
Islam yang tercantum di dalam Alquran (seperti qishash, potong tangan
bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi
yang murtad dan lainnya) dengan berbagai alasannya. Bahkan, ada sepintas
dari hati ini berburuk sangka terhadap aturan yang tercantum dalam
Alquran tersebut, kami anggap sebagai aturan yang melanggar hak asasi
manusia, dan kami lebih bangga dan mengagungkan aturan buatan diri
sendiri.
Perjuangan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah Islam
ini tidak mudah. Begitu banyak halangan dan rintangan yang harus Beliau
hadapi dalam rangka menyampaikan risalah-Nya. Bahkan, harus berkorban
jiwa dan raga. Namun, Beliau tetap menjalani itu semua dengan penuh
ikhlas dan sabar, supaya bisa menyelamatkan umat manusia dari kesesatan
menuju kebenaran. Beliau SAW tidak ingin umat manusia ini tersesat,
sehingga beliau sering memikirkan bagaimana supaya risalah Islam ini
sampai kepada seluruh umat manusia.
Nabi SAW di samping selalu
memikirkan risalah Islam supaya sampai kepada selurh umat manusia, Nabi
juga begitu besar cintanya kepada umat. Cinta Nabi SAW kepada umatnya
begitu besar. Bahkan ketika sakaratul mautpun, Nabi SAW masih ingat
kepada umatnya. Berangkat dari hal ini, maka kita selaku umat Nabi SAW
patut bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi SAW. Di samping itu,
tentunya kita juga harus meneladani Nabi SAW dalam mencintai umatnya.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya: "Siapa
yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah
kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah
akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya
pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan,
niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat, dan siapa
yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupkan aibnya di dunia
dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu
menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka
akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang
berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid) dalam
rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka,
melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan
dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat
serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisi-Nya. Dan
siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.
(HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946,
Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu
‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84)
Hadis di
atas juga tercantum dalam hadis Arba’in ke 36 karya Imam Nawawi
rahimahullah. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa kita selaku orang
mukmin harus saling memudahkan urusan dengan mukmin lainnya. Karena
orang mumin itu adalah bersaudara, maka kita harus memperhatikan urusan
sesama mukmin yang lain. Apalagi, memperhatikan urusan umat Nabi
Muhammad SAW, karena Nabi Muhammad SAW sendiri selalu memikirkan urusan
umatnya.
Maka, tidak ada alasan lain bagi kita selaku umat Nabi
SAW untuk tidak peduli terhadap sesamanya. Maka, saya paham kenapa
guru-guru kami selalu mencontohkan ketika pagi hari selalu memimpin doa
untuk kemaslahatan umat Nabi Muhammad SAW, di antara waktu azan Shubuh
dan iqamat. Ini menunjukkan guru kami ingin memberikan contoh kepada
muridnya, ketika bangun di pagi hari diajak untuk memikirkan urusan umat
Nabi SAW.
Tetapi dalam kenyataannya, hati ini, begitu berat
untuk peduli kepada umat Nabi SAW. Umat Nabi SAW di sana banyak yang
menderita, masalah di Irak, Palestina, Afghanistan, Suriah, Afrika
Utara, Bosnia, Rohingya, dan masih banyak permasalahan yang menimpa umat
Nabi SAW di negeri Muslim lainnya. Mereka menderita, di dzalimi,
kelaparan, tapi kami hanya bisa melihat penderitaan mereka. Kami terlalu
sibuk dengan cita-cita, mengejar seberapa banyak harta yang bisa di
raih, hanyut dalam hawa nafsu, mengejar cinta yang tidak ada kepastian,
terbawa dalam gemerlap kehidupan dunia. Dan tentunya, kami akan malu
ketika suatu saat harus bertemu dengan Nabi SAW. Apakah kita sudah layak
menjadi umat Nabi SAW? Apakah nanti kita yakin akan di akui oleh Nabi
SAW sebagai umatnya?
Maka, pentingnya peringatan Maulid Nabi SAW
yang selalu diperingati setiap tahunnya di negeri ini untuk dijiwai.
Bukan hanya sekedar acara rutinan dan ibadah ritual semata, tapi harus
masuk ke dalam jiwa dan berusaha untuk meneladani Nabi SAW dalam segala
aspek kehidupan. Di samping mencintai Nabi SAW, kita juga harus cinta
kepada Alquran dan Umat Nabi SAW. Salah satunya, berusaha untuk
husnuzhan (berbaik sangka) kepada risalah yang Nabi SAW bawa yakni kitab
suci Alquran.
Dalam momunten maulid ini, penting bagi umat Islam
untuk bersatu dan bergerak untuk memperjuangkan seluruh isi Alquran
agar dapat diterapkan dalam kehidupan. Inilah salah satu bentuk cinta
kepada Nabi SAW. Di samping kita cinta kepada Nabi SAW, kita juga harus
cinta kepada risalah yang Beliau SAW bawa yakni Alquran. Aksi 212 yang
baru-baru ini terjadi di negeri ini menunjukkan umat Islam bisa bersatu
dan bergerak membela Alquran saat QS Al-Maidah ayat 51 yang dinistakan,
maka selanjutnya umat juga harus bersatu dan bergerak dalam rangka
memperjuangkan seluruh isi Alquran dalam seluruh aspek kehidupan. Karena
tidak diterapkannya Alquran dalam seluruh aspek kehidupan, merupakan
salah satu bentuk pelecehan terhadap Alquran.
Sebagai catatan
akhir, pada momentum maulid ini, pentingnya bagi kita semua, di samping
mencintai Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada Alquran dan umat Nabi
SAW. Selanjutnya, umat harus bersatu dan bergerak dalam rangka
memperjuangkan penerapan seluruh isi Alquran, supaya bisa menyelesaikan
semua persoalan yang menimpa umat Nabi SAW khusunya, dan permasalahan
seluruh umat manusia pada umumnya. Karena dengan penerapan seluruh isi
Alquran dalam seluruh aspek kehidupan akan memberikan kehidupan yang
lebih baik bagi negeri ini.
Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
"Hai
orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah
dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan
kalian." (QS al-Anfal [8]: 24).
*) Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Cinta Nabi, Alquran, dan Umat Nabi SAW
Title: Cinta Nabi, Alquran, dan Umat Nabi SAW
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
Oleh : Tatang Hidayat *) Nabi Muhammad SAW merupakan makhluk yang agung. Beliau SAW adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi ...
Posting Komentar